Cinta memang penuh teka-teki. Yang disangka akan membawa bahagia, namun sebaliknya. Rasa sendu berbalut luka mengiringi air mata. Tanpa sadar, pesakitan ulah cinta membawa perih dalam kehidupan. Itulah yang dirasakan Pia. Sekian lama ia percaya akan kekuatan cinta, kesaktiannya luntur lantas kecewa karena waktu tidak berpihak padanya. Ia luluh lantah dan bingung akan melakukan apa pada dirinya yang muali terhempas dalam lautan kegaluan. Ia tidak berhenti disitu saja, gadis 18 tahun itu hanya meyakini pasti akan ada cinta yang lebih baik dari pada itu. Benar saja, setelah 1 tahun ia memndam kesendirian, Tuhan mengantarkan ia pada seseorang.
Meskipun jalan untuk itu begitu pahit, ia mengenal Adit dari mantan pacarnya. Karena Adit dan Brian adalah teman dekat. Sebenarnya ia belum bisa melupakan Brian, tapi apa mau dikata. Hari itu tanpa sengaja ia berjalan sendirian di mall untuk sekedar menjernihkan pikiran dari segala masalah yang dihadapinya. Berbelanja mungkin sedikit menghapus luka itu. kebanyakan membawa belanjaan membuat ia kehilangan keseimbangan di Lift. Saat itu lah ia mengenal Adit. Adit yang membantu membawa barang-barang belanjaannya. Hingga waktu makan siang mereka habiskan berdua hari itu. kecocokan yang timbul membuat mereka semakin dekat. Begitu banyak kesamaan. Namun, Pia sempat tersedak saat Adit menceritakan sosok Brian yang merupakan sahabat dekatnya dan ia adalah mantan pacarnya Pia. Kenyataan pahit itu terulang kembali meski dengan cara yang berbeda. Gadis itu hanya diam membisu sambil memakan steak yang ada dihadapannya. Meski ia sudah kenyang, ia tetap berusaha sekuat mungkin menyuapkan steak itu ke mulutnya agar ia bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa Brian sahabat Adit bukanlah Brian yang menyakitinya dulu.
Kedekatan mereka semakin terlihat seiring kebersamaan hampir setiap waktu. Sejenak Pia mulai sedikit bisa menghilangkan canggung dihadapan adit. Lantas setengah tahun sering menghabiskan waktu berdua, pia tak pernah menanyakan kemana arah hubungan mereka. Ia tidak ingin buru-buru mengambil keputusan karena memang ia tak ingin luka lagi. Ia membiarkan adit yang bergerak lari untuk menentukan dimana tempat berhenti. Apapun yang terjadi, pia tidak akan menyesali. Karena baginya cinta pasti akan kembali bila sudah pergi.
Sejuta pengharapannya telah lama disimpan adit, jawab itu usai sudah. Terlepas dalam pelukan penuh tanya, kedua mata itu saling berpandangan. Tak satupun kata terucap, hanya hati yang berbicara kalau mereka saling mencintai. Musim itu tiba, bintang tersenyum,dan semilir angin pun mengantarkan kedua jiwa itu rebah dalm mimpi yang tak terjamah logika. Adit mencintainya. Dan tak ada lagi Brian, Brian sudag mati. Mati dalam hatinya. Kekosongan jiwa yang 1 tahun ini berisikan pesakitan hilanmg sudah. Namun itu tak berlangsung lama, ia tersentak saat Adit ingin mengenalkannya pada sahabat dekatnya, Brian. Ia tak pernah mengatakan pada adti siapa Brian, dan mengapa ia terkejut saat mendengar nama itu. Bukannya ia tak ingin jujur, hanya saja ia tak ingin mengingat laki-laki itu.
Segenggam kecemasan dikantonginya, ia gugup dan bertanya-tanya,”apakah Brian ini laki-laki itu.” sepanjang jalan menuju koredor bandara tanya itu mendesik hati kecilnya. Adit dan Brian telah menunggunya di pintu kanan ruang tunggu penumpang. Rasa itu semakin membuat jantungnya kembang kempis. Nyaris tak berdetak. Ia seperti mengenal sosok yang berdiri disana. Dan ia yakin dengan wajah itu. Brian ! mengapa ia disini. Seperti lupa bahwa Adit menunggunya dari tadi. Ia menghampiri sosok itu dan tanpa ragu menyapanya. Satu langkah lagi ia hampir meraih bahu laki-laki itu. Terburu ia menoleh kekiri, adit kekasihnya menyebutnya ”sayang”. Serentak kedua pasang mata itu menengok ke arah suara itu. ”Hai Brian, kamu menunggu lama ?” ujar adit.
Benar-benar petir disiang bolong, tidak ! ini lebih dari petir. Ini melebihi badai tornado. Ternyata benar dan tidak salah lagi, Brian mantannya adalah sahabat dekat kekasihnya adit. Ya tuhan, ia membeku dan indera nya tak merasakan apa-apa. Benih kebencian pada Brian timbul serentak kebisuannya menatap wajah adit. ”apa yang aku lakukan.”ia merasa hubungannya dengan adit adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang mengantarkannya pada pesakitan yang mungkin akan kembali terjadi.
”nggak lama kok, Cuma ditinggal ke toilet aja kok lama,”sambil cekikan Brian membalas guruan adit. Tanpa basa basi pun Brian menanyakan keberadaan gadis itu. ”mana pacar kamu dit, kok nggak ada kamu kenalin?”. adit pun segera meraih tangan pia yang berara tepat disamping Brian. Ia heran, atau jangan-jangan Brian sudah buta. Masa tidak mengenalinya. Dengan bangganya adit mengenalkannya pada Brian, berjabat tangan seakan baru pertama kali bertemu membuat mata keduanya terpaku pada satu titik. Suasana yang sama saat perpisahan semi 1 tahun lalu terulang kembali, hanya kondisinya saja yang berbeda, ia sudah memiliki adit sekarang. Brian terheran dan tak menyangka. Wanita yang ditinggalkannya 1 tahun lalu telah dimiliki sahabatnya. Tidak ada yang salah saat itu, Brian meninggalkannya karena keadaan yang memaksa. Bukan karena hati. Namun, gadis itu tidak bisa menerima keputusan Brian yang benar-benar menghukumnya dalam cinta.
Itu sudah berlalu, tidak akan ada lagi kesempatan untuk kembali. Adit lebih baik darinya. Dan ia tak akan meninggalkan adit hanya untuk laki-laki itu. Memang tak ada yang tak mungkin. Dengan kekuaatan cinta adit telah mengunci rapat pintu hatinya untuk siapapun termasuk mantan kekasihnya itu. Yah, inilah akhirnya. Meskipun sakit masih tersisa direlung hati, lihat kembali kedepan masih banyak yang lebih bauik dari pada kita terhenti hanya dibelakang. Melihat kebelakang sama saja mengenang titik hitam yang hanya menyisakan noda meski sedikit, tapi coba pandang kedepan sana. Terbentang sejuta harapan bahagia sepanjang garis putih itu. Meski akan datang cepat atau lambat.
Selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar