Semi 3 tahun lalu masih menyisakan sebuah cerita yang tak pernah habis untuk dituliskan. Membayangkan manisnya saat pertama kali merasakan indahnya sebuah rasa. Namun kini tak lagi ada secercah seyuman yang menghiasi malamnya. Vero bukanlah seorang gadis yang sabar, ia tidak mau menunggu lama. Apalagi untuk menunggu seseorang yang tidak pasti. Ia berfikir, bagaimana agar cerita cintanya tidak berakhir begitu saja. Ia tak ingin kisahnya yang telah disemai 3 tahun lamanya bersama Dion hilang ditelan kebencian orangtuanya terhadap kekasih yang dipujanya itu. Harap demi harap ia memutar waktu, andaikan.
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, begitu juga dengan keajaiban cinta mereka. Sesuatu yang aneh bahkan garing untuk diceritakan. Lucu dan menggemaskan. Dimana cinta itu dimulai saat masuknya siswa baru di sekolahnya. Maklum saja, zamannya sekolah SD tidak mengerti yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi, tidak dipungkiri memang itulah yang terjadi. Biasalah, layaknya mak comblang yang sibuk mondar-mandir mengantar dan menjemput surat cinta, kenzy tidak pernah mengeluh. Ia seantiasa membantu sahabatnya yang sedang kasmaran itu. Vero tidak sabaran menanti balasan surat dari sang pujaan hati. Maklum saja, zamannya SD mereka belum mengenal Handphone. Nyarislah surat jadi bahan pegantar perasaan cinta monyet gadis itu. Dion terlalu cuek. Tapi ia juga berharap terus dikagumi vero. Alangkah bodohnya vero yang tak ingin menyatakan cinta itu. Surat menyurat itu berlangsung hinga mereka SMP, jodoh kali. Sampai masuk ke Sekolah Menengah Pertama yang sama. Nah, si mak comblang pun tak ketinggalan. Ternyata kesabaran Vero benar-benar diuji sampai ke ubun-ubunnya. Sudah 3 tahun menanti jawaban itu. Ternyata Dion tidak mau bicara. Entah karena malu ataukah memang tidak ada cinta.
Kenzy sudah tak habis daya untuk menyatukan cinta sahabatnya itu. Bahkan ia sempat menutuk Dion untuk segera jatuh cinta pada Vero. Namun usaha Kenzy selama bertaun-tahun terjawab sudah saat mereka sama-sama lulus dari SMP. Dan ternyata Dion telah lama menaruh hati pada Vero, namun ia enggan jujur. Biasalah laki-laki selalu saja mengambil langkah pelan. Bahagianya Vero tak terbendung lagi, berjalan dan terus berjalan mengikuti arus detik setiap hari bersama. Kekuatan cinta keduanya semakin lama semakin banyak godaan. Entah karena Vero mulai bosan, ataukah karena kesetiaan mereka sedang diuji, entahlah. Yang pasti Dion terluka dan benar-benar sakit saat mengetahui Vero Selingkuh dengan temannya. Oh..tuhan, vero bukan selingkuh. Tapi, itu hanya murni kecelakaan hati yang melenceng dari janji setia mereka berdua. Apa bedanya dengan selingkuh yang disengaja.
Kejadian sore itu membuat Dion vakum. Tidak ada balasan sms atau telfon. Benar-benar mati. Sehingga Vero terpekik dalam hati yang jauh tak terdengar. Ia luluh lantah. Kekecewaan apa yang membuat ia setega itu mengkhianati cintanya. Bukankah dulu ia begitu mengagumi Dion. Dan apa lagi yang ia cari, tidakkah cukup ia membuat Dion terluka sore itu.
Nyaris tak bersuara saat Kenzy menyapanya, ia hanya mendengar isakan bathin Vero yang seolah-olah berkata “aku menyesal”. Buat apa sesal yang ia bicarakan dalam hati. Tidak ada gunanya, tidak akan membuat Dion kembali. Seakan dihujam ribuan manisnya kata-kata cinta yan membuat hatinya pedih. Vero tak hiraukan semua pesan yang masuk ke Handphonenya. Ia membiarkan berdering menyeru. Tidak diperdulikannya sosok Kevin yang berstatus selingkuhanya. Tentunya kekesalan terbesar Kenzy rasakan. Seakan usahanya bertahun-tahun lamanya tertendang jauh ke langit-langit lalu terjatuh dengan sadis. Ia sangat kecewa dengan itu.
Cinta memang buat sakit. Dan begitu memuakkan. Tidak bertahun-tahun seperti awal ia menjadi pos cinta. Dua minggu sudah ia berusaha meyakinkan Dion bahwa hal yang dilakukan sahabatnya adalah sebuah kekhilafan. Jika masih hal itu dikatakan khilaf. Akhirnya usai sudah. Kenzy memang lihai dalam urusan cinta. Tidak ada lagi sembraut diwajah Vero. Pastinya, karena sahabatnya Kenzy berhasil membawa Dion kembali dalam pelukkannya.
Dion terlahir dari keluarga yang kaya, namun dulu. Setelah orangtuanya mengalami hal buruk yang tidak diketahui sebabnya, kini ia tinggal dengan mengontrak sebuah rumah di komplek perumahan. Mungkinkah karena hal itu, Dion tidak menjawab tanya hati Vero 3 tahun lalu. tapi sudahlah, toh kini mereka telah bersama. Vero dan Kenzy sama-sama memiliki ambisi untuk maju, namun mereka mempunyai cita-cita yang sangat jauh berbeda, Vero yang kental dengan jiwa didik ingin menjadi seorang guru. Sedangkan Kenzy lebih kuat jiwa sosialnya, ia ingin menjadi seorang Penyiar radio dan menjadi kandidat lingkungan yang peduli terhadap semua orang. Sejak duduk dibangku SD, Kenzy dikenal pandai. Ia tidak pernah keluar dari rangking 10 besar dikelasnya. Bahkan pada saat kelulusan SD, ia mendapat juara harapan 2 terbaik sekolah. Berbeda dengan Vero yang anteng-anteng saja. Mereka berdua sepakat untuk melanjutkan tingkat SMP yang sama. Tidak beda dengan zamannya SD, di SMP Vero dan Kenzy mengukirprestasi yang luar biasa. Vero aktif dalam lomba paskibraka, sedangkan Kenzy andil juara 1 lomba pidato.
Sekali lagim ini bukan semi 3 tahun lagi, tapi sudah menjadi semia 6 tahun. Karena mereka sudah menamatkan pendidikan tingkat SMA. Keadaan tidak berubah, tetap seperti yang dulu. Namun, yang berubah hanyalah cinta. Cinta vero padam. Kini dion bukanlah sosok yang dipuja-puja nya lagi. Hatinya telah mati rasa untuk itu. Ia jenuh dengan hubungan yang tak jelas endingnya. Terang saja orangtua Vero seorang Dirjen Kepolisian memilah siapa yang pantas untuk anaknya vero. Bukan dion orang yang dimaksud. Karena dion tidak ada apa-apanya dimata Dirjen Polisi itu. Sebenarnya vero tak sanggup harus mengakhiri hubungannya itu. Tapi ia bukanlah seorang julet yang mempertaruhkan masadepan dengan sang Romeo. Ia lebih memilih masa depannya sendiri dari pada menjalani hubungan dengan dion yang tak direstui orangtuanya.
Kebimbangan yang masih merajainya tak terelakkan lagi oleh kesibukkan kuliahnya. Biarkan semua berlalu tanpa satu keputusan. Tak jarang juga dion masih berani menemuinya setelah diteriaki orangtua vero. Kadang cinta yang terbina lama tak menjamin kebahagiaan sesaat. Air mata lah yang akan menjadi saksi hati yang tersakiti. Jika waktu telah menentukan takdir, tetaplah satu goresan yang tercipta meski ada dua pena yang yang mengiringnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar