Aku tidak melihat ada bintang yang bersinar terang malam ini. Aku meyakini pekat yang menutupi relung jiwa ini. Orang yang dikasihi akankah merinduku. Sepertinya jelas tidak. Pernyataan kata-kataku tadi membuat aku selalu memberi senyum pahit ada setiap tanya ”bagaimana hubungan kamu dengannya?.” selaras aku minta pada gelap, agar mau sedikit saja memberiku secercah cahaya agar aku terlelap. Tapi, permintaanku itu tak disambut baik olehnya. Aku saja yang selalu merindu, sedangkan ia ? tak satupun kata lagi ku dengar. Tidak ada yang tahu bahwa batas waktu ku hanya menunggu senja. Aku takut, saat aku pergi ia tak mengantar ku. Kadang kala pun aku jenuh menunggu, entah sampai kapan aku akan terus menuggunya untuk menjemputku. Apa ia ingin aku segera berlalu.
Namun itu 9 bulan lalu aku rasakan, kini semua berubah. Mungkin jika mengingat ibu mengandung bayi selama 9 bulan dan akan melahirkan, pasti kehadiran bayi itu sangat dinantikan. Tapi jika dibandingkan dengan kesedihan yang aku kandung 9 bulan lalu, akankah kelahirannya dinanti ?. aku yakin tidak. Tapi sudahlah, semuanya kan toh sudah kembali. Aku berjalan dengan senyum lebar menginjak pasir-pasir putih yang menari ditelapak kaki ku. Indah rasanya dunia saat aku menikmati waktu berdua senja itu. Rerumputan yang membentang seakan memberi luang untuk ku menikmati setiap sapuan helainya di pipi ini. Aku terhanyut dalam balutan angin yang berbisik indah disela telingaku, seiring kata indah yang bernyanyi ”aku sangat mencintaimu”.
Aku melambung jauh disudut ruang angkasa, saat mata ini menatap binar kesungguhan dari kelopak matanya. Jika aku tak tahan, mungkin air mata ku pun tak ragu untuk menetes selama 9 bulan lalu aku terpaku dalam tanda tanya. Dan kini aku bisa memberi jawaban atas tanya itu,”hubunganku dengannya baik-baik saja, dan kami saling mencintai.” terang saja malaikat pun mengetahuinya. Aku bahagia saat itu. Belum lagi aku mengungkapkannya, ia sudah mengerti. Sedikit keraguanku terhapus dengan kata sakti yang diucapkannya ”aku selalu ada untuku,sampai nafas ini terhenti.” yah...Pramidanta sempat membuatku ragu. Namun, aku yakin ia serius detik ini. Ingat, untuk detik ini. Dan aku harap tak akan pernah berubah.
Tapi, waktu ku tak lama. Senja telah datang seiring mentari yang terbenam, savana pun mulai enggan menampakkan keceriaannya. Sudah saat aku mengatakan yang ingin aku katakan sejak dulu. Semoga saja ia mengerti dengan kata-kata ku nanti. Itu pun tak kan merubah cintaku. Sebab, ini selamanya. Dan harus tetap selamanya. ”Peluk aku 3 menit” , terpejam mata seakan damai pada satu rasa. Ternyata benar, ia sungguh mengerti maksudku. Terang saja aku tak sanggup melepas pelukkannya, bagaimana tidak. Siapapun tak kan mampu melewatkan senja bersama kekasih dibalik awan mendung. Begitu romantis. Namun, sesuatu yang harus aku katakan. Aku harus segera beranjak pergi, sebab tak mungkin aku meninggalkan masakan didapur. Pasti terdengar aneh kan, terang saja. Aku mencuri waktu untuk mengingatkan suamiku tentang masa muda dulu, masa dimana awal aku menjalin kasih denganya. Berbeda dengan kini, usia ku sudah dewasa, namun masih saja terlihat kekanakkan.
Musim liburan ini lah aku niatkan, berharap hubungan ku semakin erat lagi. Walau sempat renggang karena kesibukkannya tugas ke luar kota. Sebagai pasangan yang baru menikah, aku tahu ini konyol. Tapi, ini lah yang bisa aku lakukan. Maklumlah, sifat kekanak-kanakkan ku belum hilang semenjak pacaran hingga aku menikah dengan Pramidanta. Kekalutan ku sendirian dirumah membuat aku terhempas dalam kesepian yang luar biasa. Tapi, syukur lah. Pramidanta memahami ku. Meski sebenarnya 3 menit tak sebanding dengan kegalauan yag aku kandung 9 bulan lamanya. Hanya 3 menit berada dipelukkannya, aku bisa mengembalikan suasana yang buat aku ragu. Alhamdulillah.....
Selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar