Kamis, 08 September 2011

dilema gersang



Berjalan diatas kaca memang tidak bisa terbayangkan. Berat rasanya melangkahkan kaki di alun-alun kehidupan yang curam. Penuh dengan misteri dan tanda tanda tanya. Berawal bahagia dan berakhir luka. Begitu juga sebaliknya. Namanya juga hidup, kita yang berperan didalamnya. Pandai-pandai saja berebut menjadi peran utama dalam sandiwara ini. berbagai kisah dapat dituangkan dalam diary. Namun bagiku itu hanya sekedar buang-buang waktu saja. Aku tidak suka basa-basi. Itu lah sosok ku yang egois namun optimist dalam kisah hidup ku sendiri.
Sudah satu tahun aku menjalani kisah cinta dengannya. Semakin hari semakin aku yakin bahwa dia lah yang terakhir untukku. Namun aku salah dengan klise itu. Setiap hari aku merasakan galau yang berujung pada pertengkaran hebat. Entah karena aku sudah mulai bosan dengan kisah ini atau entahlah. Namun aku tetap saja luluh jika berhadapan dengannya. Rendy memang beda. Ia selalu saja memberi kejutan dibalik perasaanku yang begitu kalut padanya. Itu bukan masalah. Mungkin itu hanya sekedar kejenuhan semu dn tak patut aku salahkan.
Aku bahagia bersamanya. Selang waktu 1 tahun membuat aku semakin mengenali sosoknya yang sederhana. Meskipun ia sering membuat aku kesal. Toh, itu lah cinta. Berbagai rasa dalam satu kata. Bisa dibilang lebay atau apalah. Tapi aku tidak bisa pungkiri kesaktian cinta yang memberikan aku sosok Rendy yang begitu perhatian padaku. Sampai suatu hari aku sedang stress berat. aku bingung apa yang harus aku kerjakan di kantor. Komputer di depan ku bisu. Enyah saja aku memanfaatkan fasilitas free WIFInya. Facebook sudah menjadi jembatan baru bagi dunia remaja seperti ku ini. iseng-iseng ikut undian berhadiah. Yah, ini lah yang sekarang aku rasakan. Keisengan ku chatingan dengan adik kelas ku waktu SMA membuat aku jatuh kedalam jurang dilema.
Sore itu aku menghabiskan waktu untuk jogging bersama Keyla sahabatku. Dari pada aku sepi sendiri dirumah, Rendy pun sibuk dengan urusannya. Tidak ada SMS darinya, apa dia marah ya, entahlah. Yang jelas aku sudah sms-in Rendy. Itu saja sudah cukup untuk memberitahu dia. Memang niatnya buat cuci mata ya tetap saja tidak terasa joggingnya. Baru satu kali putaran rute saja Keyla merengut keletihan. Santai dibawah pohon dibalut semilir angin yang lembut menyapu wajah-wajah keletihan ini.
“ya tuhan, dia ngajak ketemu Key !” ujarku. Keyla kaget dan heran menatapku. Padahal, jika diajak ketemu aku santai saja. Tapi kali berbeda. terang saja Keyla menhajukan pertanyan 5 W + 1 H yang membuat aku pusing menjawabnya. Maklum sajalah, nilai bahasa Indonesia ku tidak pernah sempurna. “ya santi aja Pie, Cuma ketemu doang kok kamu kelabakan gini,aneh deh.”
Jujur saja,perasaan ku campur aduk. Rendy yang sudah 1 tahun bersarang dibenakku tiap malam. Kini berganti dengan sosok cowok yang cool dan senyumannya ! ya Tuhan, membuat aku tidak mampu untuk berkata “Hai” sedikitpun. Apa ini ? apa aku jatuh cinta lagi ? oh…tidak. Jika benar, bagaimana Rendy. Bagaimanan dengan kisah indah ku selama 1 tahun bersamanya. Sudahlah, mungkin ini karena Arya adik kelas ku dulu. Makanya aku grogi dan sembreweng dihadapannya.
Sudah seminggu aku dekat dengan Arya. Telfonan dan sms-an pun hampir tiap detik. Aku mulai menyingkirkan Rendy sesaat dari benakku. Hanya seperempat otakku yang mengingat kenangan manis dengannya. Dan sisanya aku memikirkan Arya. Atau jangan-jangan aku benar-benar jatuh cinta. Oh tidak, ini tidak mungkin. Aku tak ingin Arya menggantikan posisi Rendy yang sangat aku cintai.
Malam ini aku janjian ketemu dengan Arya. Dinner yang romantis itu tidak berlanmgsung lama. Arya meraih kedua tanganku. Seakan berada di atas kaca. Apa ini, aku sudah miliki Rendy. Tapi malam ini aku makan malam berdua dengan pria yang bukan kekasihku. Aku selingkuh ! “ini tidak mungkin”. Aku tidak pernah merasakan keindahan seperti ini. dulu, begitu banyak pria yang setengah mati mengejar cintaku. Namun aku tak pernah menerima dan mempertahankan kesetiaanku pada Rendy. Tapi sosok Arya beda, ia benar-benar meluluhkan aku.
“kamu mau kan jadi pacar aku?,” kata-kata Arya menghanyutkanku dalam lamunan sesaat. Dan aku terjaga seiring sentuhan hangat jemarinya dipipi kanan ku. “ia, aku mau.” Aku tidak bisa berkata “tidak” padanya. Aku jatuh cinta dan aku tak ingin kehilangan saat-saat seperti ini. lantas Rendy bagaimana ? aku tak tahu. Yang aku tahu sekarang didepanku ada Arya yang begitu mencintaiku. Aku terbaring dalam dingin malam yang membekukan nafasku untuk berkata “aku bajingan!”. Hanya itu yang aku katakan hingga pgi menjelang. Mata ku sembab karena semalaman aku tidak tidur.
Kini tidak hanya perhatian Rendy yang datang, tapi juga Arya. Aku berusaha menutupi hubunganku dengan Arya. Aku tak ingin menyakiti Rendy, aku pun tak ingin menyakiti Arya karena aku pun mencintainya. Semakin dalam aku tenggelam dalam dusta. Entah sampai kapan aku tahan perihnya dilema ini. aku hanya bisa menjalaninya tanpa menganggap ini sebuah kesalahan.
Semua seperti biasa, aku mengatur waktu untuk Rendy dan Arya. Aku hanya ingin berbuat adil. Entahkah karma aku tak pikirkan itu. Aku hanya tak ingin larut dalam kesalahan yang datang padaku. Aku biarkan hatiku bermuara pada dilema ini. meskipun sakit, tidakkan aku perduli. Hanya tuhan yang tahu mana yang terbaik untukku. Rendy atau Arya. Dua cinta yang membuat hatiku gersang terhempas dilema yang dahsyat. Sampai disini, tinggal menunggu akhir kisahku. Hanya waktu yang sanggup menjawabnya, bukan aku.

Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar