Kamis, 08 September 2011

Menunggu Kelabu



Sudah beribu jalan aku lewati dengan setitik harapan bisa melupakannya. Namun, semua sia-sia. Mungkin ia memakai pelet. Sampai-sampai aku tak sanggup untuk membuang wajahnya dalam bayangan tidurku. Tapi itu hanya sekedar ilusi ku saja. tidak mungkin ia memelet ku. Karena memang aku yang tergila-gila padanya. Langsung saja, waktu itu aku secara tidak sengaja menemukan buku tahunan diatas lemari belajarku. Iseng-iseng saja aku membolak-balik kertas yang tidak mutu itu,yah tidak mutu karena disana tidak ada nilai apa-apa dimataku. Selain tampang-tampang manusia yang 3 tahun bersama ku belajar di sekolah. Sedikit aneh memang, tapi itu lah aku. Aku tidak terlalu memperdulikan hal yang tidak penting seperti itu. tapi di halaman pertama adalah galeri foto siswa-siswi jurusan TI. aku terhenti sejenak dan fokus memandangi sosok wajah yang gemuk, imut dan buat aku kecanduan melihatnya. Dan aku baru sadar, sosok itu lah yang membuat aku memendam rasa cinta atau apalah namanya selama 3 tahun terakhir ini. Aku tak sadar akan itu. mengapa dia dan harus dia yang aku pikirkan selama 3 tahun ini.
Aku beranjak ke tampat tidur dan memeluk guling kesayanganku. Maklumlah, aku tidur sendirian karena memang aku masih lajang. Sambil tiduran aku terus memandangi wajah lugu difoto itu. aku baru ingat lagi, ada nomor handphone nya. Mengapa aku tidak menghubunginya saja. betapa bodohnya aku,”aku memang bodoh dalam cinta.” Semoga saja dia mau mengangkat telfon ku. Sebentar saja aku sudah mendengar suaranya, merdu sekali. Aku geli mendengarnya, bukan karena suaranya. Tapi karena ketololan ku yang menghubunginya. Tapi sudahlah, aku sudah terlanjur. Berbasa-basi bukanlah hal yang tabu aku lakukan. Hampir setiap hari, jam, menit, detik aku menelfonnya dan sms-in dia. entahkah aku sudah mulai berani untuk mengatakan rasa bodoh yang sudah 3 tahun bersarang dihati kecilku ini. biarkan saja waktu yang menjawabnya. Takkan lari gunung dikejar.
Gejolak cinta sepertinya yang saat ini aku rasakan. Siang, malam hanya dia yang ada dipikiranku. Yang lebih anehnya lagi, timbul rasa cemburu yang luar biasa saat aku meihat ada cewek yang curi perhatiannya lewat facebook. Mati rasa sepertinya hatiku ini. belum juga jadi pacar. Kok cemburuan aku membabi buta padanya. Kejadian seperti itu berlangsung selama 1 tahun ini, sekarang aku hanya menunggu waktu. Waktu ulang tahunku kemaren, aku blak-blakkan menyatakan perasaan cinta yang aku pendam selama 3 tahun padanya. Dan jawaban yang ia berikan benar-benar menghujam janjtungku hingga nadiku tak berdetak,”aku hanya menganggap kamu seperti adikku sendiri.” Ya tuhan, apa maksudnya berkata seperti itu. aku seakan jatuh dalam penghujung gelap yang tak ada titiknya. Aku lemah dan menyepi disudut kamar sambil memandagi fotonya, tanpa sadar air mataku pun menetes tiap mengingat kata-kata sakti yang diuacpkannya waktu itu. Bukan kah ia pernah bilang,”aku menyayangimu”. Tapi semua hanya kedoknya saja. Itu tidak masuk akal. Sebab aku tahu siapa dia. Aku tahu apa isi hatinya. Hanya saja ia tak berani jujur. Munafik mungkin.
Aku rela menunggu, rasa cemburu yang diperlihatkannya padaku membuat aku semakin yakin akan cintanya. Meski harus ia lari dari takdir cinta ini. Dalam pekat senja aku berfikir, akankah semua ini berakhir bahagia. Arif memang bukan sosok yang mudah menyatakan cinta, tapi aku bisa tahu dia mencintaiku. Rasa cemburunya yang buat aku semakin bertanya-tanya. ”Dimanakah hati itu kau sembunyikan?”.
Sampai hari ini, aku hanya berburu pada waktu untuk meyakinkannya. Betapa aku tak ragu untuk bersama melalui gelapnya kebimbangan. Namun, dia masih saja diam. Dan diam itu lebih baik katanya. Oh tuhan, berikanlah aku petunjukMU. Begitu sulitnya ia sadar akan perasaan ku ini. Arif telah berhasil membius otakku untuk selalu memikirkannya. Sikap bodoh yang ditunjukkannya memberikan aku reaksi imia yang tak bisa aku bawa tidur. Senyumanya oh senyumannya saat aku bertemu pertama kali. Namun itu tidak berlangsung lama, aku putus hubungan dengannya saat kecemburuannya meledak. Aku tahu aku salah, tapi lebih salah dia yang tidak memberiku kepastioan kemana hubungan ini. Aku tidak ambil pusing, tapi aku selalu dibuat pusing dengan status dia yang selalu menjepitku.
Aku hanya berharap pada sang waktu agar ia berubah. ”Arif,aku harap kamu sadar dan mau berubah demi kita.”semoga saja tuhan membukakn pintu maaf darinya untukku, karena aku keterlaluan telah menyakitinya dengan sikap bodohku ini. Cinta memang tidak bisa dikira berapa dan dimana. Dikala galau pun tak terhingga berjuta kata-kata yang tersimpan diotak. Hingga buat aku mumet setengah mampus. Tapi aku percaya, cinta adalah sesuatau yang indah. Kesakitan yang dirasakan karena cinta hanyalah ujian semata. Bukanlah langkauan sesaat yang menyesatkan hati dan pikiran. Semoga saja ia bisa mendengar apa yang katakan ini.
Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar