Aku adalah manusia munafik. Tak mampu berkata jujur dengan keadaan. Namun apalah dayaku. Aku tak sanggup berkata “tidak” saat ari datang padaku. Tak bisa pun aku sangkali saat ia menyatakan cinta padaku. Jujur aku katakan, saat ini aku telah berdua, aku memiliki kekasih yang sangat mencintaiku dan aku pun begitu mencintainya. Seperti persetan dengan cinta membuat aku tak percaya ini bisa terjadi padaku. Aku tak perdilikan perasaan ini telah menyakiti mereka. Aku hanya manusia yang lemah. Bila waktu bisa ku putar, aku tak ingin mengarahkan cinta pada dua hati itu.
Yoga begitu mencintaiku, apalagi aku. Namun, saat aku menjalin kedekatan dengan ari. Suasana itu berubah, tidak hanya aku yang merasakan perubahan yang terjadi pada diriku. Tapi juga yoga, yoga pernah menanyakan tentang sikap ku yang sedikit dingin padanya. Namun hal itu tertutupi dengan alasan kesibukan ku di kantor. Yoga percaya saja, karena memang ia sepenuhnya percaya padaku. Hari demi hari aku lalui dengan langkah kebimbangan. “Siapa cintaku?”.
Setiap waktu yang aku sisihkan tak lepas dari cinta kasih yang tulus dari mereka. Aku begitu larut tak tersentuh rasa. Hatiku padam, dan tidak berpihak pada siapa-siapa. Tetap saja demikian itu, rasa cintaku pada yoga tak pernah pudar. Tapi rasa sayang pada ari pun semakin dan semakin saja aku rasakan seiring perhatiannya yang mengalir padaku. Hingga aku sampai pada satu tujuan akhir untuk memilih, meski harus aku sakit, aku rela mati rasa.
“ari, maafkan aku. Aku tak bisa terus bersamamu. Kata maaf tak bisa menebus, atas satu khilafku padamu,aku bukan mengkhianati cinta ini, aku hanya ingin jujur pada hati kecilku.maafkan aku, aku harus pergi.” sejak saat itu ak tak pernah memperdulikan sms atau pun telfon darinya. Aku hanya memperdulikan kekasih ku yoga. Namun ini kah karma ? saat aku berpihak pada yoga dan terang melupakan ari. Yoga menhkianatiku. Cinta benar-benar kejam padaku.
Aku tak tahu kemana akan berlari membawa luka ini. Tanpa sadar pun ari datang saat aku membutuhkannya menghapus air mata ini. Ternyata cinta tak harus memiliki. Aku hanya manusia, dan tak bisa mencitpakan takdir cintaku sendiri. Mungkin memang ari yang terbaik dan memang ia takdirku.
”maafkan aku”. Aku memintanya untuk tidak mengucapkan kata cinta saat itu, aku hanya ingin ia mengucapkan kata cinta setelah aku mati. Karena aku hanya ingin ia yang slalu menemani hidupku hingga nafasku terhenti. Aku letih bermain dalam dusta, dan ini aku akhiri. Sampai pada ari takdirku ”sayang”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar